Ciri Kanker Usus yang Perlu Diwaspadai Sebelum Keluhan Semakin Berat

Kesehatan78 Views

Ciri kanker usus, merupakan penyakit yang perlu dikenali sejak dini karena pertumbuhannya dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas. Sebagian pasien baru menyadari adanya gangguan setelah mengalami perubahan pola buang air besar, perdarahan pada tinja, nyeri perut, penurunan berat badan, atau kelelahan berkepanjangan.

Istilah kanker usus yang digunakan masyarakat umumnya merujuk pada kanker kolorektal, yaitu keganasan yang tumbuh di kolon atau rektum. Kolon merupakan bagian terpanjang dari usus besar, sedangkan rektum menjadi bagian akhir yang menampung tinja sebelum dikeluarkan melalui anus. Kanker pada usus halus merupakan penyakit berbeda dan jauh lebih jarang ditemukan.

Kanker kolorektal sering bermula dari polip, yaitu pertumbuhan jaringan pada lapisan dalam kolon atau rektum. Tidak semua polip berubah menjadi kanker. Namun, sebagian jenis polip dapat berkembang secara perlahan menjadi keganasan apabila tidak ditemukan dan diangkat. Pemeriksaan penyaring dapat membantu menemukan polip sebelum berubah menjadi kanker.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat kanker kolorektal termasuk jenis kanker yang paling banyak ditemukan secara global. Lebih dari 1,9 juta kasus didiagnosis pada 2022, dengan lebih dari 900.000 kematian dalam setahun. Angka tersebut memperlihatkan pentingnya mengenali keluhan yang tidak biasa dan menjalani pemeriksaan sesuai penilaian dokter.

Stadium Awal Sering Tidak Menunjukkan Keluhan Jelas

Salah satu kesulitan dalam mengenali kanker usus adalah tidak adanya tanda khusus pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat, tetap bekerja, dan tidak mengalami gangguan pencernaan berarti meskipun polip atau sel kanker mulai tumbuh di dinding usus.

Keluhan biasanya muncul ketika tumor membesar, mengganggu perjalanan tinja, menyebabkan perdarahan, atau memengaruhi fungsi jaringan di sekitarnya. Letak tumor ikut menentukan jenis keluhan. Tumor pada bagian kanan kolon dapat lebih sering berkaitan dengan perdarahan samar dan anemia, sedangkan tumor pada bagian kiri atau rektum dapat lebih cepat menimbulkan perubahan bentuk tinja, kesulitan buang air besar, atau darah yang terlihat. Pemeriksaan dokter tetap diperlukan karena gejala tidak dapat digunakan untuk menentukan lokasi tumor secara pasti.

Ketiadaan keluhan bukan berarti seseorang terbebas dari penyakit. Pemeriksaan penyaring ditujukan kepada orang yang belum memiliki gejala, sedangkan pemeriksaan diagnostik dilakukan ketika sudah muncul keluhan atau ditemukan hasil penyaring yang tidak normal.

“Kanker usus tidak selalu diawali rasa sakit hebat. Perubahan kecil yang terus berulang justru perlu dicatat dan dibicarakan dengan tenaga medis.”

Perubahan Pola Buang Air Besar yang Menetap

Perubahan kebiasaan buang air besar menjadi salah satu ciri yang sering ditemukan pada kanker kolorektal. Bentuknya dapat berupa diare, sembelit, frekuensi buang air besar yang bertambah, atau kebiasaan yang berubah tanpa penyebab jelas.

Setiap orang mempunyai pola buang air besar yang berbeda. Ada yang melakukannya setiap hari, ada pula yang hanya beberapa kali dalam satu minggu. Hal yang perlu diperhatikan bukan semata jumlahnya, melainkan perubahan dari kebiasaan normal yang bertahan dan terus berulang.

Sembelit sesekali setelah kurang minum atau mengubah pola makan tidak langsung menunjukkan kanker. Diare yang hanya berlangsung satu atau dua hari juga lebih sering berhubungan dengan makanan atau infeksi. Kecurigaan meningkat apabila perubahan tersebut menetap, disertai darah, nyeri, berat badan turun, atau tubuh semakin lemah.

Sebagian orang juga merasa ingin buang air besar berkali kali meskipun tinja yang keluar hanya sedikit. Perasaan bahwa usus belum kosong sepenuhnya dapat muncul apabila terdapat gangguan pada rektum atau bagian akhir kolon. Keluhan ini perlu diperiksa apabila terjadi terus menerus.

Darah pada Tinja Tidak Boleh Langsung Dianggap Wasir

Perdarahan saat buang air besar menjadi tanda yang sering menimbulkan kekhawatiran. Darah dapat tampak merah terang pada permukaan tinja, menetes ke toilet, menempel pada tisu, atau tercampur di dalam tinja.

Darah merah terang sering dikaitkan dengan wasir atau luka pada anus. Dugaan tersebut memang mungkin benar, tetapi tidak dapat dipastikan hanya dari warna darah. Peradangan usus, polip, infeksi, kelainan pembuluh darah, dan kanker kolorektal juga dapat menyebabkan perdarahan.

Pada sebagian pasien, darah tidak terlihat dengan mata. Perdarahan berlangsung sedikit demi sedikit dan baru diketahui melalui pemeriksaan tinja atau tes darah yang menunjukkan anemia. Tes darah samar pada tinja dirancang untuk mendeteksi jumlah darah yang sangat kecil, tetapi hasil positif belum berarti seseorang pasti menderita kanker. Kolonoskopi atau pemeriksaan lanjutan dapat diperlukan untuk mencari sumber perdarahan.

Perdarahan yang berulang sebaiknya tidak hanya ditangani dengan obat wasir yang dibeli sendiri. Pemeriksaan perlu dilakukan terutama jika darah disertai perubahan buang air besar, nyeri perut, berat badan turun, usia yang semakin bertambah, atau riwayat kanker dalam keluarga.

Bentuk Tinja Berubah dan Terlihat Lebih Kecil

Perubahan bentuk tinja kadang menjadi perhatian karena tumor dapat mempersempit rongga usus. Tinja mungkin tampak lebih kecil, pipih, atau memanjang tipis dibandingkan biasanya.

Meski demikian, bentuk tinja tidak dapat dijadikan satu satunya dasar untuk menduga kanker. Konsistensi tinja dipengaruhi oleh jenis makanan, jumlah cairan, kecepatan gerakan usus, stres, obat, dan gangguan pencernaan lainnya.

Perubahan bentuk menjadi lebih penting apabila berlangsung lama dan disertai keluhan lain. Rasa tidak tuntas, tinja berdarah, sembelit yang semakin berat, perut kembung, serta penurunan berat badan perlu dibicarakan dengan dokter.

Pemeriksaan langsung diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat penyempitan, peradangan, polip, atau massa di dalam usus. Menilai bentuk tinja melalui foto di internet tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.

Nyeri Perut dan Kram yang Terus Berulang

Nyeri perut pada kanker usus dapat muncul sebagai rasa tidak nyaman, kram, tekanan, atau sakit yang datang berulang. Lokasinya tidak selalu sama dan tidak selalu terasa tajam.

Tumor yang menghambat perjalanan isi usus dapat memicu kontraksi lebih kuat sehingga timbul kram. Penumpukan gas dan tinja juga dapat membuat perut terasa penuh atau membesar. WHO dan CDC memasukkan nyeri perut yang tidak menghilang sebagai salah satu keluhan yang perlu diperhatikan pada kanker kolorektal.

Nyeri perut sangat umum dan lebih sering disebabkan oleh gangguan selain kanker. Keracunan makanan, infeksi, intoleransi makanan, sindrom iritasi usus, batu empedu, gangguan lambung, dan penyakit saluran kemih dapat menimbulkan keluhan serupa.

Perbedaannya tidak dapat dipastikan hanya dari tingkat rasa sakit. Durasi, lokasi, hubungan dengan makanan, pola buang air besar, keberadaan darah, demam, muntah, dan hasil pemeriksaan fisik akan membantu dokter menentukan langkah berikutnya.

Perut Kembung dan Cepat Terasa Penuh

Kembung dapat terjadi ketika gas menumpuk atau gerakan isi usus melambat. Pada kanker kolorektal, keadaan tersebut dapat berkaitan dengan penyempitan sebagian saluran pencernaan.

Pasien mungkin merasa ukuran perut membesar, pakaian terasa lebih sempit, atau tidak nyaman setelah makan dalam jumlah sedikit. Selera makan dapat menurun karena perut terus terasa penuh. Keluhan yang hanya muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu belum tentu mengarah pada penyakit berat.

Kembung perlu mendapat perhatian lebih ketika terjadi hampir setiap hari, semakin berat, disertai sembelit, muntah, nyeri menetap, atau tidak dapat membuang gas. Tumor usus dapat menyebabkan sumbatan sebagian maupun menyeluruh, meskipun banyak penyakit lain juga dapat memicu penyumbatan.

Sumbatan usus merupakan keadaan yang membutuhkan penanganan segera. Penundaan dapat meningkatkan risiko kekurangan cairan, gangguan elektrolit, kerusakan jaringan usus, atau kebocoran pada saluran pencernaan.

Berat Badan Turun Tanpa Sedang Menjalani Diet

Penurunan berat badan tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik dapat menjadi salah satu ciri kanker usus. Tubuh dapat menggunakan energi lebih besar ketika menghadapi penyakit, sementara selera makan menurun akibat rasa mual, penuh, atau nyeri.

Berat badan yang turun beberapa ratus gram dalam waktu singkat belum tentu menandakan masalah. Berat tubuh secara alami dapat berubah mengikuti asupan cairan, makanan, waktu penimbangan, dan aktivitas.

Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah penurunan yang terus berlangsung tanpa rencana. Celana menjadi longgar, wajah terlihat lebih kurus, kekuatan tubuh menurun, dan jumlah makanan yang dapat dihabiskan semakin sedikit.

Penurunan berat badan juga ditemukan pada gangguan tiroid, diabetes, infeksi kronis, penyakit hati, gangguan penyerapan makanan, serta kondisi kesehatan lainnya. Pemeriksaan darah dan saluran pencernaan dapat membantu mencari penyebabnya. WHO, CDC, dan Kementerian Kesehatan memasukkan penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebagai salah satu keluhan kanker kolorektal.

Tubuh Mudah Lelah karena Kekurangan Darah

Kelelahan pada kanker usus tidak selalu terasa seperti mengantuk setelah kurang tidur. Penderitanya dapat merasa lemah meskipun sudah beristirahat, kehilangan tenaga saat menjalani kegiatan ringan, atau sulit berkonsentrasi.

Salah satu penyebabnya adalah anemia akibat kekurangan zat besi. Tumor dapat mengalami perdarahan kecil dalam waktu lama. Karena jumlah darah yang keluar sedikit, pasien mungkin tidak melihat perubahan pada tinja. Namun, cadangan zat besi perlahan berkurang dan produksi sel darah merah terganggu.

Anemia dapat menimbulkan wajah pucat, jantung berdebar, napas pendek ketika beraktivitas, sakit kepala, pusing, serta tangan atau kaki terasa dingin. WHO mencantumkan kadar zat besi rendah dan kelelahan sebagai gejala yang dapat ditemukan pada kanker kolorektal.

Pada orang dewasa, terutama laki laki dan perempuan yang sudah tidak menstruasi, anemia kekurangan zat besi tanpa penyebab jelas memerlukan penelusuran. Pemeriksaan bukan hanya untuk mencari kanker, tetapi juga sumber perdarahan atau gangguan penyerapan lainnya.

Penelitian yang dibahas National Cancer Institute menemukan bahwa anemia kekurangan zat besi, perdarahan rektum, nyeri perut, dan diare termasuk tanda yang berhubungan dengan kanker kolorektal pada orang dewasa berusia lebih muda. Temuan tersebut tidak berarti setiap orang dengan satu gejala pasti terkena kanker.

Lendir pada Tinja Dapat Menyertai Keluhan Lain

Usus secara alami menghasilkan lendir untuk membantu perjalanan tinja. Sejumlah kecil lendir terkadang masih dapat ditemukan tanpa menunjukkan penyakit berbahaya.

Jumlah yang semakin banyak atau muncul berulang dapat berkaitan dengan infeksi, sindrom iritasi usus, penyakit radang usus, polip, maupun kanker. Pada kanker kolorektal, lendir dapat muncul bersama darah, perubahan pola buang air besar, atau rasa tidak tuntas.

Kementerian Kesehatan mencatat buang air besar berdarah dan berlendir sebagai salah satu keluhan yang dapat muncul perlahan pada pasien kanker kolorektal. Gejala tersebut tetap tidak bersifat khusus sehingga diagnosis tidak boleh dibuat hanya berdasarkan penampilan tinja.

Membawa catatan mengenai frekuensi keluhan dapat membantu konsultasi. Pasien dapat mencatat kapan lendir mulai terlihat, apakah disertai darah, warna tinja, jumlah buang air besar, serta obat yang sedang dikonsumsi.

Keluhan Dapat Berbeda Berdasarkan Letak Tumor

Usus besar memiliki beberapa bagian dengan diameter dan fungsi yang tidak sepenuhnya sama. Karena itu, tumor di bagian kanan kolon dapat memberikan keluhan berbeda dari tumor di bagian kiri atau rektum.

Isi usus pada bagian kanan masih lebih cair dan ruang usus relatif lebar. Tumor dapat tumbuh cukup lama sebelum menyebabkan sumbatan. Keluhan yang muncul mungkin berupa anemia, tubuh lemah, penurunan berat badan, atau rasa tidak nyaman di perut.

Pada bagian kiri, isi usus telah menjadi lebih padat. Penyempitan dapat lebih cepat mengubah pola buang air besar, menimbulkan kram, atau membuat tinja sulit lewat. Tumor pada rektum dapat memicu darah merah, rasa ingin buang air besar terus menerus, serta perasaan belum selesai setelah dari toilet.

Gambaran tersebut hanya membantu memahami variasi keluhan, bukan menentukan letak kanker sendiri. Pemeriksaan seluruh kolon dan rektum diperlukan apabila dokter mencurigai kanker kolorektal. Pedoman Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa diagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis saja tidak dapat dipercaya.

Kanker Usus Juga Dapat Menyerang Orang Berusia Muda

Usia yang bertambah merupakan salah satu faktor risiko kanker kolorektal, tetapi penyakit ini tidak hanya ditemukan pada orang lanjut usia. Orang dewasa muda tetap dapat mengalaminya, terutama jika memiliki riwayat keluarga atau sindrom genetik tertentu.

Keluhan pada pasien muda terkadang terlambat diperiksa karena dianggap sebagai wasir, gangguan lambung, atau perubahan pola makan. Perdarahan rektum, anemia kekurangan zat besi, nyeri perut, dan diare yang menetap tidak boleh diabaikan hanya karena pasien belum berusia lanjut.

Risiko lebih tinggi juga ditemukan pada orang dengan keluarga dekat yang pernah mengalami kanker kolorektal, riwayat polip tertentu, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, sindrom Lynch, atau familial adenomatous polyposis. Waktu pemeriksaan untuk kelompok tersebut dapat lebih awal dan lebih sering daripada masyarakat dengan risiko rata rata.

Riwayat keluarga sebaiknya disampaikan secara rinci kepada dokter. Informasi yang dibutuhkan mencakup anggota keluarga yang terkena kanker, jenis kanker, serta usia ketika penyakit ditemukan.

Gejala Kanker Usus Sering Menyerupai Penyakit Lain

Darah pada tinja tidak selalu berasal dari kanker. Wasir, luka anus, penyakit radang usus, infeksi, dan polip juga dapat menimbulkan perdarahan. Sembelit, diare, serta nyeri perut pun memiliki banyak penyebab.

Kesamaan gejala membuat seseorang tidak disarankan mendiagnosis diri sendiri. Menganggap setiap darah sebagai kanker dapat menimbulkan kecemasan berlebihan, sedangkan menganggapnya selalu sebagai wasir berisiko menunda pemeriksaan.

CDC menegaskan bahwa gejala kanker kolorektal dapat disebabkan oleh penyakit lain. Satu satunya cara untuk mengetahui penyebabnya adalah berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan yang sesuai.

“Kewaspadaan yang tepat bukan berarti langsung menganggap diri terkena kanker, tetapi tidak membiarkan keluhan menetap tanpa penilaian medis.”

Kolonoskopi Membantu Melihat Kondisi Bagian Dalam Usus

Dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan keluhan, riwayat keluarga, obat yang digunakan, perubahan berat badan, serta pola buang air besar. Pemeriksaan fisik dapat mencakup penilaian perut dan pemeriksaan rektum.

Tes darah dapat dilakukan untuk melihat anemia, fungsi organ, dan keadaan umum pasien. Pemeriksaan tinja dapat mendeteksi darah yang tidak tampak. Hasil tersebut belum dapat memastikan kanker, tetapi membantu menentukan kebutuhan pemeriksaan berikutnya.

Kolonoskopi menjadi pemeriksaan utama ketika terdapat dugaan kanker usus. Prosedur ini menggunakan selang lentur berkamera untuk melihat lapisan dalam kolon dan rektum. Dokter dapat mengambil jaringan dari bagian yang mencurigakan untuk diperiksa di laboratorium.

Diagnosis kanker memerlukan pemeriksaan jaringan atau biopsi. Bentuk tinja, darah, hasil tes darah samar, atau gambar pemindaian saja tidak cukup untuk menyatakan seseorang terkena kanker.

Apabila kanker ditemukan, pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI dapat digunakan untuk menilai ukuran, lokasi, serta penyebarannya. Hasil tersebut membantu tim medis menentukan pilihan pengobatan.

Skrining Berbeda dari Pemeriksaan karena Sudah Bergejala

Skrining dilakukan pada orang yang belum merasakan gejala. Tujuannya adalah menemukan polip prakanker atau kanker pada tahap awal. Polip tertentu dapat diangkat sebelum berkembang menjadi keganasan.

Jenis pemeriksaan penyaring meliputi tes darah samar pada tinja, fecal immunochemical test, tes DNA tinja, sigmoidoskopi, kolonoskopi, dan CT colonography. Pemilihan tes bergantung pada usia, riwayat kesehatan, tingkat risiko, ketersediaan layanan, serta anjuran dokter.

Orang yang sudah mengalami darah pada tinja, anemia, perubahan buang air besar, atau penurunan berat badan tidak sebaiknya hanya mengandalkan tes penyaring mandiri. Keluhan tersebut membutuhkan penilaian diagnostik agar penyebabnya ditemukan.

Waktu memulai skrining tidak sama untuk semua orang. Pedoman dapat berbeda antarnegara dan diperbarui mengikuti bukti medis. Riwayat keluarga, penyakit radang usus, polip, atau sindrom keturunan dapat membuat pemeriksaan perlu dimulai lebih awal.

Kondisi yang Membutuhkan Pertolongan Medis Segera

Perdarahan dalam jumlah banyak, tubuh sangat lemas, pusing berat, pingsan, atau jantung berdebar cepat memerlukan pertolongan segera. Gejala tersebut dapat menunjukkan kehilangan darah yang cukup besar.

Nyeri perut hebat yang muncul mendadak, perut semakin membesar, muntah berulang, serta tidak dapat buang air besar atau membuang gas juga perlu ditangani sebagai keadaan darurat. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan sumbatan usus atau gangguan lain yang memerlukan pemeriksaan cepat.

Untuk keluhan yang tidak bersifat darurat, pemeriksaan tetap perlu dijadwalkan apabila perubahan buang air besar tidak membaik, darah terus muncul, berat badan turun, atau kelelahan semakin berat.

Mencatat gejala sebelum konsultasi dapat membantu dokter. Catatan dapat berisi waktu keluhan dimulai, frekuensi buang air besar, keberadaan darah atau lendir, obat yang dikonsumsi, perubahan nafsu makan, serta riwayat kanker dalam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *