Dua Jenazah Erupsi Dukono Dievakuasi, Tim SAR Tutup Operasi di Kawah Tim SAR gabungan akhirnya mengevakuasi dua jenazah korban erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Dua korban terakhir itu ditemukan pada hari ketiga operasi pencarian, tidak jauh dari lokasi penemuan korban pertama yang lebih dulu dievakuasi sehari sebelumnya. Peristiwa ini menjadi perhatian nasional karena proses pencarian berlangsung di medan berbahaya, dekat kawah aktif, dengan ancaman erupsi susulan yang masih terus dipantau petugas.
Dua Korban Terakhir Ditemukan Dekat Kawah Dukono
Penemuan dua jenazah terakhir dilakukan pada Minggu, 10 Mei 2026, setelah tim SAR gabungan kembali menyisir area yang sebelumnya sudah ditandai. Menurut laporan BNPB, kedua korban merupakan warga negara asing yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada operasi pencarian hari ketiga. Mereka ditemukan tidak jauh dari titik penemuan korban pertama pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Dua korban tersebut berinisial H.W.Q.T., laki laki berusia 30 tahun, dan S.M.B.A.H., laki laki berusia 27 tahun. Sebelumnya, korban pertama berinisial E, perempuan warga negara Indonesia, ditemukan meninggal dunia di sekitar 50 meter dari bibir kawah. Dengan temuan dua korban terakhir ini, seluruh korban yang sebelumnya dilaporkan hilang dinyatakan berhasil ditemukan.
Proses evakuasi tidak berlangsung mudah. Posisi korban berada di area yang tertimbun material vulkanik dengan ketebalan cukup dalam. Kondisi di sekitar kawah juga tidak stabil karena aktivitas Gunung Dukono masih naik turun. Tim SAR harus bergerak hati hati, bukan hanya untuk mempercepat evakuasi, tetapi juga untuk memastikan keselamatan personel yang bekerja di lokasi.
Operasi Pencarian Berlangsung di Tengah Ancaman Erupsi
Pencarian korban erupsi Gunung Dukono dilakukan dalam kondisi yang sangat berisiko. Gunung tersebut masih menunjukkan aktivitas vulkanik, sementara area pencarian dipenuhi pasir vulkanik, bebatuan, dan permukaan yang mudah berubah saat hujan turun. Pada hari sebelumnya, pencarian korban pertama juga sempat terkendala hujan deras yang mengguyur lokasi.
BNPB menyebut korban pertama ditemukan pada Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 14.30 WIT. Saat itu, jasad korban terlihat sebagian karena tertutup material pasir vulkanik. Tim SAR kemudian melakukan evakuasi sesuai prosedur keselamatan, sebelum jenazah dibawa menuju posko penanganan erupsi dan dirujuk ke RSUD Tobelo.
Setelah korban pertama dievakuasi, tim menemukan dua titik timbunan material pasir dalam radius sekitar tiga meter dari lokasi tersebut. Dua titik itu kemudian dicurigai sebagai lokasi korban lain yang masih dicari. Karena cuaca mulai gelap dan aktivitas gunung masih terpantau tinggi, tim memilih menunda penggalian lanjutan demi keselamatan.
Sebanyak 98 Personel Dikerahkan ke Lokasi
Pada operasi pencarian hari ketiga, sebanyak 98 personel SAR gabungan dikerahkan. Mereka dibagi ke dalam empat regu untuk mempercepat penyisiran dan pengangkatan jenazah dari area sulit. Unsur yang terlibat terdiri dari Basarnas, BPBD Kabupaten Halmahera Utara, TNI AD, TNI AL, Polairud, Brimobda, ERT Gosowong, PMI, serta masyarakat setempat.
Keberadaan warga lokal ikut membantu tim memahami jalur pendakian, titik rawan, dan pola pergerakan di area Gunung Dukono. Dua korban selamat juga disebut turut memberikan informasi kepada tim mengenai jalur yang dilalui serta titik terakhir keberadaan korban sebelum situasi darurat terjadi. Informasi seperti ini penting karena medan di sekitar kawah tidak mudah dibaca, terutama setelah tertutup material erupsi.
Dalam operasi seperti ini, kecepatan tidak selalu menjadi satu satunya pertimbangan. Tim juga harus menghitung arah angin, potensi hujan, perubahan permukaan pasir vulkanik, serta peluang terjadinya letusan susulan. Setiap regu bergerak dengan kewaspadaan tinggi karena kesalahan kecil dapat membahayakan nyawa personel.
Erupsi Pagi yang Mengubah Pendakian Menjadi Tragedi
Erupsi Gunung Dukono terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT. Kementerian ESDM melalui PVMBG melaporkan bahwa erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 milimeter dan durasi 967,56 detik. Kolom erupsi teramati mencapai sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung.
Kolom abu berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas tebal. Arah sebaran abu condong ke utara, sehingga wilayah permukiman dan Kota Tobelo berpotensi terkena hujan abu vulkanik. Kondisi ini membuat masyarakat sekitar diminta menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat abu mulai turun.
Pada saat erupsi terjadi, sejumlah pendaki berada di kawasan Gunung Dukono. Dari peristiwa tersebut, tiga orang meninggal dunia dan belasan lainnya berhasil dievakuasi selamat. Data BNPB menyebut dua korban terakhir adalah WNA, sementara korban pertama merupakan WNI. Seluruh jenazah kemudian diarahkan ke RSUD Tobelo untuk identifikasi dan penanganan lanjutan.
Gunung Dukono Sudah Masuk Zona Larangan Pendakian
Peristiwa ini juga membuka sorotan terhadap kepatuhan pada larangan pendakian. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Dinas Pariwisata telah menetapkan penutupan total aktivitas pendakian Gunung Dukono sejak 17 April 2026. Ketentuan tersebut kemudian dipertegas melalui keputusan Bupati Halmahera Utara tentang penutupan permanen pendakian Gunung Dukono pada Jumat, 8 Mei 2026.
Dalam keputusan itu, operator, pengelola, dan penyedia jasa pendakian dilarang memberikan izin pendakian kepada siapa pun. Pemerintah daerah juga melarang masyarakat dan wisatawan memasuki kawasan rawan bencana dalam radius empat kilometer dari puncak kawah, sesuai rekomendasi PVMBG.
Larangan tersebut bukan sekadar aturan administratif. Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung api yang sangat aktif. Area dekat Kawah Malupang Warirang menyimpan ancaman abu pekat, lontaran material, gas vulkanik, dan lahar saat hujan. Kondisi lapangan dapat berubah cepat, bahkan ketika cuaca terlihat aman dari kejauhan.
Aktivitas Dukono Terpantau Meningkat Sejak Maret
PVMBG mencatat aktivitas erupsi magmatik eksplosif Gunung Dukono meningkat sejak 30 Maret 2026. Sebelum erupsi besar pada 8 Mei, gunung tersebut telah mengalami 199 kali erupsi dengan tinggi kolom berkisar antara 50 hingga 400 meter dari puncak. Pada erupsi 8 Mei, tinggi kolom abu melonjak jauh lebih besar hingga sekitar 10.000 meter di atas puncak.
Status Gunung Dukono berada pada Level II Waspada. Meski status ini bukan level tertinggi dalam sistem peringatan gunung api, rekomendasi keselamatan tetap sangat ketat. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang.
PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, terutama saat musim hujan. Aliran lahar dapat melintasi Sungai Mamuya di sektor utara, serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu dari puncak Gunung Dukono.
Tantangan Evakuasi di Area Vulkanik Aktif
Evakuasi jenazah di area gunung api aktif memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tim tidak hanya berhadapan dengan jarak dan kemiringan jalur, tetapi juga material panas, pasir lepas, batu besar, serta kabut abu yang dapat mengurangi jarak pandang. Bila hujan turun, pasir vulkanik bisa menjadi lebih berat dan licin, sementara lereng dapat berubah menjadi jalur aliran material.
Dalam kasus Gunung Dukono, korban ditemukan dekat kawah dan tertimbun material vulkanik. Kondisi tersebut membuat penggalian tidak bisa dilakukan sembarangan. Tim perlu memastikan material di sekitar tubuh korban tidak bergerak tiba tiba, terlebih lokasi berada di kawasan yang masih berisiko terkena letusan susulan.
Penggunaan koordinat GPS membantu tim mengunci titik pencarian. Setelah titik dicatat pada operasi sebelumnya, tim dapat kembali ke lokasi dengan arah yang lebih jelas. Cara ini mengurangi waktu penyisiran di area berbahaya dan membantu regu evakuasi bekerja lebih terukur.
Posko Penanganan Menjadi Pusat Koordinasi Lapangan
Setelah jenazah ditemukan, tim SAR membawa korban menuju pos penanganan darurat erupsi Gunung Dukono. Posko ini menjadi titik koordinasi antara Basarnas, BPBD, aparat keamanan, tenaga medis, pemerintah daerah, dan unsur pendukung lain. Dari posko, jenazah kemudian dirujuk ke RSUD Tobelo untuk identifikasi serta penanganan lanjutan.
Posko juga berfungsi sebagai pusat pembaruan data korban. Dalam peristiwa dengan banyak pendaki, pencocokan identitas harus dilakukan secara hati hati. Nama, inisial, kewarganegaraan, usia, data rombongan, dan keterangan korban selamat perlu disatukan agar tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian kabar kepada keluarga.
Koordinasi lintas unsur menjadi kunci karena lokasi kejadian berada di wilayah yang menantang. Selain medan gunung, tim juga harus mengatur jalur ambulans, akses komunikasi, kesiapan tenaga medis, serta pengamanan area agar warga tidak masuk ke zona berbahaya.
Korban Selamat Ikut Membantu Petugas
Keterangan korban selamat menjadi bagian penting dalam pencarian. BNPB menyebut dua korban selamat membantu tim SAR gabungan dengan memberikan informasi tentang jalur pendakian serta titik terakhir keberadaan korban sebelum erupsi. Informasi ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang arah pergerakan rombongan saat situasi berubah menjadi genting.
Di lokasi seperti Dukono, jalur pendakian dapat terlihat berbeda setelah tertutup abu. Titik yang sebelumnya mudah dikenali bisa hilang dalam hitungan menit. Karena itu, keterangan orang yang berada di lokasi saat kejadian sangat membantu petugas menentukan area prioritas.
Peran korban selamat juga menunjukkan beratnya situasi di lapangan. Mereka baru saja mengalami kejadian yang mengancam nyawa, tetapi tetap membantu petugas agar proses pencarian korban lain lebih cepat. Dalam operasi darurat, informasi dari saksi langsung sering menjadi pembeda antara pencarian luas dan pencarian yang lebih terarah.
Penutupan Operasi SAR Setelah Semua Korban Ditemukan
Setelah dua jenazah terakhir berhasil dievakuasi, operasi SAR erupsi Gunung Dukono resmi dinyatakan ditutup. Penutupan dilakukan karena seluruh korban yang sebelumnya dilaporkan hilang sudah ditemukan. Meski operasi pencarian dihentikan, pemantauan aktivitas gunung tetap berjalan melalui PVMBG dan unsur kebencanaan daerah.
Penutupan operasi bukan berarti kawasan Gunung Dukono sudah aman untuk didatangi. Pemerintah daerah tetap menegaskan larangan pendakian. Pengawasan jalur akan diperketat, termasuk terhadap operator atau penyedia jasa yang memberi akses pendakian tanpa izin.
BNPB juga mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pengelola jasa pendakian untuk mematuhi rekomendasi PVMBG. Aplikasi InaRisk Personal BNPB dan informasi resmi Badan Geologi dapat menjadi rujukan untuk melihat daerah rawan bencana, status gunung api, serta rekomendasi keselamatan terbaru.
Sorotan pada Kepatuhan Wisata Alam Berisiko
Kejadian di Gunung Dukono memperlihatkan bahwa wisata alam berisiko tinggi membutuhkan disiplin yang kuat. Keindahan kawah, jalur ekstrem, dan pengalaman mendaki gunung aktif sering membuat sebagian orang mengabaikan batas aman. Padahal, gunung api tidak memberi tanda bahaya dengan cara yang selalu mudah dipahami orang awam.
Setiap larangan pendakian harus dibaca sebagai peringatan keselamatan, bukan penghalang wisata. Operator perjalanan, pemandu lokal, pengelola kawasan, dan wisatawan punya tanggung jawab yang sama untuk mengikuti aturan. Bila jalur ditutup, tidak ada alasan untuk tetap masuk, apalagi menuju area kawah yang berada dalam radius larangan.
Di kawasan Gunung Dukono, pengawasan jalur pendakian kini menjadi pekerjaan penting setelah operasi SAR selesai. Pemerintah daerah diminta aktif melakukan sosialisasi kepada warga, pelaku wisata, dan pengunjung. Setiap akses menuju zona berbahaya perlu dikendalikan agar peristiwa serupa tidak kembali merenggut nyawa.






